Selasa, 14 Desember 2010

(Tasawuf) Ma’rifat

BAB I

PENDAHULUAN

Para ulama tasawuf dan kaum shufiyah menempuh beberapa cara untuk mencapai tingkat tertinggi dalam shufiyah, atau ma'rifatullah. Untuk mencapai ma'rifatullah ini setiap penuntut shufiyah menempuh jalan yang tidak sama. Ma'rifatullah adalah tingkat telah mencapai thariqat al-haqiqah. Akan tetapi tidak berarti thariqat menuju ma'rifatullah itu harus secara khusyusiah, lalu menempatkan diri hanya dalam ibadah batiniyah belaka. Akan tetapi untuk mencapai tingkat thariqat ma'rifatullah itu, para penuntut dapat juga mencapai melalui berguru langsung dengan para syaikh yang mursyid. Para syaikh yang mursyid, biasanya suka memberi pelajaran dan pendidikan kepada masyarakat untuk memberi petunjuk kaifiyat ibadah dan tauhid Uluhiyah yang bersih dan uswah hasanah Nabi SAW.

Banyak umat Islam Indonesia yang menempuh berbagai jalan demi mengidam-idamkan martabat Ma'rifat Billah. Satu hal yang sangat disayangkan, tidak sedikit orang awam yang mencari martabat Ma'rifat Billah tanpa melakukan ibadah secara Syar'i. Dalam makalah yang ringkas dan minim akan keilmuan ini penulis coba mengulas apa yang di maksud dengan Ma'rifat Billah agar kita semua memahami konsep Ma'rifat dalam ilmu Tasawuf.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian.

Dari segi bahasa Ma'rifat berasal dari bahasa arab, yakni kata arafa, ya'rifu, irfan, ma'rifat yang artinya pengetahuan dan pengalaman. Dan dapat pula berarti pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu yang bisa didapati oleh orang-orang pada umumnya (A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), 919).

Dalam kamus al-munjid kata ma'rifat berarti :

Al-ma'rifah adalah menemukan kandungan suatu benda yang pasti ada pada benda tersebut (mengetahui hakekat suatu benda)( Abu Lui'is Ma'luf, Al-Munjid (Beirut: Katholikiyah, 1987), 251).

Al-ma'rifah menurut pandangan ulama adalah ilmu (pengetahuan), setiap ilmu adalah ma'rifat dan setiap ma'rifat adalah ilmu, setiap orang yang alim tentang Allah SWT adalah orang arif dan setiap orang arif adalah orang alim (Abu Qosim Al-Qusyairi, Ar-Risalatul Qusyairiyah (Mesir: Ad-Dardiri, tt), 141).

B. Jalan Menuju Ma'rifat.

Orang yang giat beribadah kepada Allah dengan ikhlas itu dapat mengantarkan dirinya kepada ma'rifat. Itulah satu-satunya jalan ma'rifat Billah. Karena pada permulaannya bercahaya (giat beribadah) maka pada ahirnya juga bercahaya (membuahkan) ma'rifat. Ma'rifat Billah itu mempunyai bermacam -macam sifat terpuji yang dapat membuahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat (Labib Mz dan Maftuh Adnan, Kuliah Ma'rifat Mencapai Hidup Bahagia Sepanjang Masa (Gresik: Bintang Pelajar, 1991), 177).

Jalan hambah untuk mencapai ma'rifat Billah ada tiga macam, yakni: (Hamzah Ya'qub, Ilmu Ma'rifah (Jakarta: CV. Atisa, 1992), 41).

1. Jalan naluri atau pembawaan sejak lahir yang disebut dengan fitrah.

2. Jalan wahyu, yang termuat dalam kitab-kitab Allah dengan perantaraan rasul-rasul-Nya.

3. Jalan hikmah, yakni kepandaian menggunakan akal pemikiran dengan memperhatikan bukti-bukti alam yang ada.

Menurut DR. Abdul Karim As-Salawi tanjakan yang harus ditempuh kaum

sufi untuk mencapai ma'rifat ada tiga, yakni: (Abdul Karim As-Salawi, Titik Persimpangan Tasawuf Dan Kebatinan (Pekalongan:

Bahagia,1992), 65).

1. Syari'at.

2. Thoriqot.

3. Hakekat.

Menurut Hasan Yasri dalam lapangan tasawuf terdapat beberapa tanjakan batin untuk mencapai liqo' Allah, yakni: (Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf (Solo: Ramadhani, 1987), 61).

1. Syari'at.

2. Thoriqot.

3. Hakekat.

4. Ma'rifat.

C. Macam-Macam Ma'rifat.

Menurut bapak faham ma'rifat, yakni Dzunnun Al-Misri (W. 860 M) ada tiga macam ma'rifat (pengetahuan) tentang Tuhan, yakni :

1. Pengetahuan orang awam: Tuhan satu dengan perantaraan kalimat

syahadat.

2. Pengetahuan ulama : Tuhan satu menurut jalan akal pikiran.

3. Pengetahuan kaum sufi : Tuhan satu dengan penglihatan hati sanubari.

Pengetahuan menurut pengertian pertama dan kedua belum dapat dikatakan pengetahuan tentang Tuhan secara hakikat, kedua-duanya masih disebut ilmu bukan ma'rifat. Hanya pengetahuan yang ketigalah yang masuk dalam pengertian ma'rifat yakni pengetahuan tenteng Tuhan secara hakikat. (Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf (Surabaya: Bina Ilmu, 1998), 171).

Ma'rifat kaum sufi itu sendiri mempunyai beberapa macam, yakni: (Ibid.,179)

1. Ma'rifat Atas Ilmul Yaqin, yakni kaum sufi dalam mencari kebenaran masih dalam taraf menggunakan akal pikiran.

2. Ma'rifat Atas Ainul Yaqin, kaum sufi dalam mencari kebenaran menggunaka penyaksian atau penglihatan.

3. Ma'rifat Atas Haqqul Yaqin, kaum sufi dalam mencari kebenaran menggunakan cara musyahadah (berpandang-pandangan) dengan Allah

tanpa adanya perantara.

D. Tanda-Tanda Hamba Mencapai Ma'rifat.

Rabi'ah Al-Adawiyah berkata: aku mengabdi epada Tuhan bukan karena aku takut neraka, bukan pula karena ingin masuk surga, akan tetapi aku mengabdi kepada Tuhan karena cintaku kepada-Nya. Tuhanku, jika kupuja Engkau karena aku tkut neraka maka biarkanlah aku di dalamnya, dan jika kupuja Engkau karena mengharapkan surga maka jauhkanlah aku dari padanya. Maka janganlah Engkau cinta-Mu yang kekal itu dari diriku. (Harun Nasution, Filsafat Dan Mistisisme Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), 72).

Allah SWT berfirman:

Artinya: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Artinya: tanda-tanda keberhasilan pada akhir tujuan (ma'rifat) adalah kembali kepada Allah yang maha luhur pada awal tujuan. (Muhammad ibn Ibrahim, Syarhul Hikam (Surabaya: Al-Hidayah, tt), 25).


 


 


 


 


 


 


 

Artinya: menurut Dzunnun Al-Misri tanda-tanda orang arif (ma'rifat

kepada Allah) ada tiga,yakni: (Abu Qosim Al-Qusyairi, Al-Qusyairiyah, 143.)

1. Tidak menampakkan cahaya ma'rifat dan cahaya wara'nya.

2. Tidak mengi'tiqodkan ilmu secara batin yang dapat memutuskan pekerjaan dzohir dari hikmah.

3. Tidak mengharapkan nikmat-nikmat Allah yang maha agung dan maha luhur yang dapat membuka aib orang-orang yang ma'rifat Billah.

BAB III

KESIMPULAN

1. Kesimpulan

Ma'rifah adalah menemukan kandungan suatu benda yang pasti ada pada benda tersebut (mengetahui hakekat suatu benda). Jalan hambah untuk mencapai ma'rifat Billah ada tiga macam, yakni: Jalan naluri, Jalan wahyu dan Jalan hikmah. Tanda-tanda keberhasilan pada akhir tujuan (ma'rifat) adalah kembali kepada Allah yang maha luhur pada awal tujuan.


 

DAFTAR PUSTAKA


 


 

Aceh, Abu Bakar. Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf . Solo: Ramadhani, 1987

Al-Qusyairi, Abu Qosim. Ar-Risalatul Qusyairiyah. Mesir: Ad-Dardiri, tt.

As-Salawi, Abdul Karim. Titik Persimpangan Tasawuf Dan Kebatinan. Pekalongan: Bahagia,1992.

Ibrahim, Muhammad Ibn. Syarhul Hikam. Surabaya: Al-Hidayah, tt.

Ma'luf, Abu Lui'is. Al-Munjid. Beirut: Katholikiyah, 1987.

Munawwir, A.W. Kamus Al-Munawwir. Surabaya: Pustaka Progressif. 1997.

Mz, Labib dan Maftuh Adnan. Kuliah Ma'rifat Mencapai Hidup Bahagia Sepanjang Masa. Gresik: Bintang Pelajar, 1991.

Nasution, Harun. Filsafat Dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1993.

Ya'qub, Hamzah. Ilmu Ma'rifah. Jakarta: CV. Atisa, 1992.

Zahri, Mustafa. Kunci Memahami Ilmu Tasawuf. Surabaya: Bina Ilmu, 1998.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Masukkan Komentar Disini :)